Pendidikan Di Indonesia

May 15, 2009

Menikmati pendidikan belasan tahun di Indonesia membuat saya miris. Penilaian berorientasi hasil, bukan proses. Pembinaan mengabaikan EQ dan SQ. Isinya hafalan, cara cepat membabat soal, dan “ilmu” yang ketika diingat malah makin membuat lupa — tanpa penekanan soal pemikiran kritis dan pembentukan sikap mental positif. Trilogi dasar aspek pendidikan kognitif-psikomotor-afektif (sengaja?) diabaikan.

Di Indonesia, kualitas guru di Indonesia juga masih (maaf) memprihatinkan. Lulusan sekolah menengah yang jempolan biasanya lari ke tempat yang mentereng: Ilmu Kedokteran, Teknik, Ekonomi, dan sebagainya. Praktis, mereka yang masuk Ilmu Pendidikan adalah “sisa” yang gagal bersaing masuk ke jurusan elit.

Contoh lain adalah UAN yang baru saja lewat beberapa waktu lalu. Sesuai PP 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan. Namun banyak yang menilai UAN tak bermanfaat karena hanya mengkondisikan penyelewengan — demi anak didik dan sekolah terangkat citranya. Guru, kepala sekolah, dan bahkan pejabat daerah terlibat jadi tim sukses. Passing grade ditetapkan, tapi sarana, prasarana, dan sumberdaya belum terkondisikan. Begitu hasil jeblok, segala cara agar murid lulus, bukan dengan introspeksi. We want to look good, but didn’t want to be really good.

Sebagian menyayangkan jerih payah tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas diterima SPMB Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, tapi gagal dalam UAN. Murid cerdas justru terbebani mentalnya. Apalagi, andaikata tak lulus, mereka musti mengulang Paket C yang prestisenya kalah jauh. Dorongan belajar pada akhirnya justru sulit dibangkitkan dan hasil maksimal mustahil diperoleh.

Di sisi lain, kualitas pendidikan memang sedemikian rendahnya. Dengan passing grade yang cukup rendah dibanding negara tetangga, masih banyak juga yang tidak lulus. Ketika ada wacana untuk menaikkan standar, protes di sana-sini. Solusinya? Mungkin kembalikan saja ke sistem Ebtanas lama yang dirasa lebih “fair” dan tidak mengundang banyak masalah — sembari menunggu format UAN yang benar-benar pas buat negeri ini.

Atau, sebelum UAN, misalnya sekolah mengadakan seleksi intern sehingga hanya benar-benar murid yang siap yang bisa mengikuti UAN. Atau, UAN dilakukan dengan beberapa passing grade: yang nilainya sekian bisa mendaftar S1, yang sekian hanya bisa mendaftar diploma, yang kurang bisa mengulang tahun depan. Di Singapura, hanya murid tertentu yang qualified yang bisa lanjut S1, sementara sisanya masuk ke program diploma/poltek (atau TAFE kalau di Australia).

Atau, mencontek di negara maju, murid yang lulus UAN mendapat ijasah UAN, sementara yang tidak hanya memperoleh ijasah sekolah atau tanda tamat belajar. Di Inggris misalnya, setelah pendidikan wajib 16 tahun, murid bisa langsung kerja atau ambil A-Level selama dua tahun untuk persiapan kuliah. Di akhir program ada tes nasional dimana murid yang mendapat nilai A pada mata pelajaran utama bisa langsung masuk universitas favorit seperti Oxford, Cambridge, Imperial College, dan sebagainya.

Yang jelas, jika KBK/KTSP diterapkan, kita semua musti konsisten. Evaluasi harus berdasarkan proses. UAN tak perlu dipaksakan sebagai penentu kelulusan. Tapi sejauh mana kesiapan kita (terutama di daerah) untuk menerapkannya? Itu PR kita bersama


puiisiqwu

May 12, 2009

sahabaT..

TerLaLu cepaT meninggaLkan kami

mengubah semua ceriTa

yang begiTu berarTi


kenangan Terindah

masih tersimpan dihaTi ini

saaT bersamamu

LewaTi hari hari yang Tak pasTi


Tanpa senyum mu

Tanpa candamu

Tanpamu disisi kami

Namamu

akan seLaLu TerpahaT dihaTi kami..

puisi untuk sahabat

Kau perlipur laraku..

Karena kau lah,aku setegar ini
Mampu menghadapi masalah yang menunggu
Dapat melewati siksaan hati

Kau……adalah semangatku
Karna kaulah aku bertahan
Lewati hari jalani waktu
Langkahi bumi ukir kenangan

Kau…….bukan sekedar teman
Kau adalah bagian tubuh ku
Karena bersama kita tanggung beban
Berbagi cerita senang dan sedih

Hubungan kita mampu lebihi
Hubungan darah sebuah keluarga
Apakah persahabatan ini
Tetap terjadi sampai ajal tiba??

Pertanyaan ini selalu menghantui
Karena aku takut kehilanganmu
Aku tak ingin hidup sendiri
Jalani semua tanpamu

Sahabat…


PENTINGNYA PERSAHABATAN

Hidup ini bagaikan teka teki
di mana kita harus menebak ……
semua tangga yg terlihat hitam ataupun putih
kadang di saat kita bahagia sekali pun

Bagaikan air yg terus mengali
tanpa menghiraukan …….
bahwa esok akan ada yg menantikan kesedihan
di saat dan dengan keadaan apa pun

Aku bisa merasakan arti persahabatan
yang seutuhnya ya…….itulah kawanku , temanku…
sahabatku yg selalu membuat aku
melupakan kesedihan dan kembali melangkah dengan ceria .

Ku angkat wajahku……
ku buang rasa sakitku….. ku ringankan langkahku….
ku ayun tanganku……

Satu hal yg akan ku ingat selamanya Satu sahabat lebih baik dari apa pun
Karena dia mampu memberikan pegangan
Di saat kita terhuyung dan terjatuh
Dia jg mampu membuat kita tersenyum kembali dalam canda tawanya …

BERSATU TUK KUAT

Tataplah dunia..

Jalani hidup tak ada ragu…

Hanya dengan cinta semua orang…..

Sahabat sejati selalu ada….

Genggam erat tangan ini…

Gundah, ragu hilang bagai debu….

Tertiup angin tanpa arah……

Sobat..

Saatnya bangkit….

Bersatulah….

Berteriaklah pada dunia…………

Hari ini TUK KUAT Menerjang Masalah Hidup…..

Sobat…

Pasti badai terus menghilang…

Yakin dunia tersenyum…….

Tatkala persahabatan selalu mewangi….

Bagai melati semerbak harum….

Selamanya…


mAsa lLu

April 30, 2009

msa2  smp ue ..!!

w kangen am kalian yang celalu kompak + asyik ..

gag bakal pernah w lupain kalian .

persahabatan ttu ..

thanks plends me ,,

cHa Thaiiankk x’n cmua ..!!


Hello world!

April 12, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.